Minggu, 17 Februari 2013
Polemik Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Kabupaten
Sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2011 tentang Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan maka setiap daerah harus menetapkan dimana lahan yang harus "diselamatkan" dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.
Permasalahan yang banyak ditemui di kabupaten adalah sebagian besar lahan pertanian beririgasi teknis berada di kawasan perkotaan kabupaten. Muncul dilema antara mempertahankan lahan pertanian tersebut dengan mengubah fungsi petanian menjadi fungsi "kota". Secara sederhana, kota merupakan kawasan dengan peruntukan non pertanian. Desakan pembangunan di kawasan kota perlahan-lahan mengancam keberadaan lahan pertanian tersebut. Bahkan di berbagai daerah di Indonesia, lahan pertanian di kawasan kota berubah menjadi kawasan komersial, industri, perkantoran dan perumahan.
Jika kita melihat kesesuaian dan kemampuan lahan untuk peruntukan pertanian dan kawasan terbangun maka keduanya sebenarnya berada pada klasifikasi yang sama. Hampir semua variabel dan indikator yang menentukan kesesuaian dan kemampuan lahan antara keduanya memiliki kesamaan. Sebagai contoh sederhana adalah sawah dan kawasan terbangun sama-sama membutuhkan ketersediaan air tanah yang cukup, sama-sama berada pada kelerengan 0-15%, tidak berada pada kawasan rawan bencana, memiliki curah hujan yang tinggi. Jadi jika perencana melakukan analisis kemampuan dan kesesuaian lahan maka kedua penggunaan lahan untuk pertanian dan kawasan terbangun terletak pada lokasi yang sama. Lokasi tersebut pada kabupaten biasanya terletak di kawasan datar/ibukota kecamatan.
Lalu bagaimana sebaiknya pemerintah daerah menyikapi permasalahan tersebut??
Pertama, tentukan dulu kemana arah pengembangan kota ke depan. Disini, dibutuhkan pemimpin yang visioner. Jika kota pertanian/agropolitan yang menjadi tujuan maka keberadaan lahan pertanian mutlak harus dilindungi dan memberikan mekanisme perijinan yang ketat terhadap perubahan fungsi lahan.
Kedua, Hitung berapa proyeksi penduduk jangka panjang. Misal: 20 tahun. Berapa kebutuhan pangan untuk jangka waktu tersebut. Berapa luas lahan yang dibutuhkan. Dengan adanya hitungan tersebut maka dapat diketahui apakah lahan pertanian yang ada saat ini perlu dipertahankan, ditambah luasannya atau malah bisa di kurangi luasannya untuk mengakomodasi pembangunan sebuah kota.
Ketiga, ketahui siapa pemilik lahan pertanian tersebut. Yang terjadi saat ini adalah lahan pertanian di kawasan kota sudah dikuasai oleh pemodal. Dan petani penggarap hanya menyewa sehingga suatu saat dapat diambil alih oleh pemilik lahan/pemodal. Jika keadaannya memang demikian, maka akan sulit lahan tersebut dipertahankan tetap menjadi lahan pertanian.
Keempat, insentif kepada petani yang juga pemilik lahan pertanian. Pemerintah harus memberikan prasarana seperti jaringan irigasi. Melakukan penyuluhan dan bantuan pupuk. Disinsentif juga diberlakukan kepada pemodal seperti pemberian pajak yang tinggi dan tidak diterbitkan perijinan untuk kegiatan non pertanian.Disinsentif di bidang infrastruktur juga bisa dijadikan strategi mempertahankan lahan pertanian. Misal dengan membuat jaringan jalan sebagai "pembatas" perkembangan kota.
Kelima, bank lahan. Jika pemerintah memiliki kelebihan uang maka dapat membeli lahan. Lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk tujuan mempertahankan lahan pertanian.
Tentunya masih banyak lagi solusi dalam rangka implementasi UU No. 41 Tahun 2011 tentang penetapan lahan pertanian berkelanjutan di kabupaten. Yang jelas lahan pertanian di sebuah kota bukanlah sesuatu yang haram walaupun kota itu sendiri didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi (Permen PU No. 20 Tahun 2012).
Dan sebagai pengambil kebijakan, sudah seyogyanya penentuan dimana lahan pertanian berkelanjutan terutama di kawasan perkotaan melalui analisis yang detail, komprehensif, orientasi ke depan dan partisipatif. Bukan hanya melihat kondisi eksisting dimana ada lahan sawah beririgasi teknis dengan otomatis ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan. Serta kebutuhan pangan tidak hanya berupa beras saja. Ada ketela dan sagu yang telah turun menurun menjadi makanan leluhur.
Februari 2013
Follow me on twitter : @harend26
Label:
Kota dan Wilayah
Lokasi:
Trenggalek, Indonesia
Selasa, 15 Januari 2013
Aku dan dua perempuan
![]() |
| Lukisannya Dullah |
Suara
deru motor di jalanan depan rumah cukup memekakkan telinga. Sambil sedikit
membuka mata, disampingku masih tertidur pulas seorang perempuan. Kepala ini
sedikit pusing. Malam yang cukup buruk bagiku. Badan meriang di tengah derasnya
hujan yang bersahutan di luar sana. Tidak seperti perempuan itu. Terlihat
sekali menikmati hujan di malam sahdu. Sampai tak tau kalau aku sudah melihat
paginya dunia terlebih dahulu. Aku masih ingat sebuah ungkapan, “Pagi menjadi
berkesan bukan karena pagi, tapi dengan siapa kita di waktu pagi”.
Di
rumah mungil yang halaman belakangnya lebih luas dari halaman depannya, aku
tinggal bersama 2 perempuan. Kebetulan aku lelaki satu-satunya. Sudah hampir 2
bulan aku hanya terbaring di kasur. Bahkan tuk beranjakpun aku tak mampu. Dua
perempuan itulah yang membantuku selama ini. Dari membuatkan asupan makanan dan
membersihkan sisa kotoran buang air kecil dan besar.
Akupun
tahu, kadang mereka menggerutu. Disibukkan dengan pekerjaan di siang harinya,
tentunya malam hari adalah saat ketika penat dilepaskan dengan sangat di kamar
tidur. Tapi apa dayaku, hanya mereka yang kuharapkan membantuku. Kadang mereka
bergantian menjagaku. Sekedar memastikan bahwa aku tak membasahi kasur dengan
air seniku. Semacam kerja shif seperti di perusahaan. Jika petang mulai
berselang, aku sebenarnya sudah berusaha buang air kecil agar sepanjang malam
tak terasa. Tapi apa daya, udara dingin di luar sana membuyarkan rencana.
Pagi
ini aku bosan di dalam kamar. Kucoba mandiri berdiri, tapi apa daya aku tak
sanggup. Badan ini terasa sangat berat. Aku takut jatuh dari ranjang dan malah
membuat mereka marah. Perempuan pertama sibuk di dapur menyiapkan sarapan
sedangkan perempuan kedua bersolek bersiap berangkat kerja. Pagi adalah saat
tersibuk di rumahku. Tapi pagi ini keinginanku tuk sekedar melihat orang
berlalu lalang di depan rumahku tak tertahankan. Sekedar melihat embun yang
menetes di dedaunan. Atau menikmati hembusan angin dari balik bukit yang
menyiratkan kebebasan pikiran.
Aku
tak tau sampai kapan kedua perempuan itu dengan sabar merawatku. Ingin rasanya
segera meringankan beban mereka dengan membalas segala tindakannya. Tak lupa
segenap doa terpanjat. Bersama hembusan angin yang sedikit menyayat. Di balik
rumah, sayup-sayup terdengar suara motor pertanda perempuan kedua segera
berangkat kerja. Pemandangan yang cukup asing bagiku selain melihatnya langsung
memacu motornya di waktu pagi.. Perlahan suara deru motor menghilang seiring
dengan masuknya siluet sinar mentari menembus sela-sela jendela.
****
Sore
itu hujan sedang marah. Anginpun ikut-ikutan memperburuk suasana. Suara pintu
tertutup dengan paksa sedikit memekakkan telinga. Kedua perempuan itu sibuk
mencari timba tuk mewadahi air yang menetes dari atap yang bocor. Saat itu aku
sedang lapar dan dahaga. Ingin rasanya berteriak, perut terasa teraduk oleh 2
tembang keroncong jawa. Aku sudah tak kuat lagi, hingga pipi ini basah oleh air
mata. Tak sederas hujan di luar sana. Tapi cukup pedih terasa di dada.
Untungnya perempuan kedua segera beranjak ke kamar. Dengan cekatan dibuatlah
asupan. Sekejap, laparpun beranjak pergi diiringi lantunan lagu gending jawa
mengalun dari mulut tipisnya.
*****
Minggu
ketiga di bulan Desember......
Pagi
itu aku agak bangun kesiangan. Tak seorangpun kulihat di dalam kamar. Mungkin
perempuan pertama sibuk menyiapkan sarapan. Tapi perempuan kedua tak mungkin
bersolek karena ini adalah minggu. Sayup-sayup terdengar suara dua perempuan
yang semakin jelas. Rupanya, kedua perempuan itu terlihat mempesona dengan
aroma bau bunga sebagai parfumnya. Jelas sekali baju motif rona bunga sedikit
membukakan mata. Akupun tak sadar bahwa baju yang kupakai tidur semalam sudah
berganti. Sejak kapan mereka mengganti baju tidurku. Atau mereka sedang
memiliki rencana yang tak kuketahui berniat memberi kejutan di hari minggu.
Aaahhh sudahlah......, aku tak mau terlalu berharap. Semoga saja aku dibawa ke
sebuah tempat di luar sana agar sebentar kulihat dunia yang sebenarnya. Dunia
yang menungguku selama ini. Pilihan yang harus kujalani sejak tumbuh dalam
rahim ibuku. Kini aku harus bisa hidup mandiri. Tak lagi mengandalkan asupan
makanan dari plasenta ibuku dan berusaha menyesuaikan diri dengan dinginnya
dunia yang mungkin tak sehangat rahim ibuku.
Kedua
perempuan itu tersenyum bahagia di balik timbangan sebuah Posyandu. Aku telah
tumbuh dengan sempurna. Bukan sempurna dalam arti sempit tapi ketika kita mampu
melewati tahapan kehidupan dengan baik itulah kesempurnaan yang sebenarnya.
Umurku hampir 2 bulan lamanya. Panjangku bertambah 15 cm dari semula dan berat
badanku naik 2,3 kg. Setelah sampai rumah, perempuan kedua dengan mesra
memintaku meminum susu dari putingnya.
Januari
2013
*Cerpen ini saya dedikasikan untuk seluruh ibu-ibu yg tdk hanya melahirkan tapi merawat dan membesarkan bayinya...
Follow
me on twitter : @harend26
Label:
Sehari - Hari
Lokasi:
Trenggalek, Indonesia
Minggu, 25 November 2012
Lelaki bernama Arjuna ......
Lelaki itu bernama depan Arjuna. Kebetulan ibunya sangat
terkiul-kiul pada Master Chef Juna. “Pembawaanya laki banget.” Ujarnya. Tak
henti-hentinya dipandangi lewat layar kaca. Dalam jagad pewayangan, sosok
Arjuna dikenal sebagai penengah Pandawa di negara Amarta. Mampu menjadi magnet
bagi sebagian besar perempuan. Tanpa harus mengumbar kata-kata cinta. Begitulah
seharusnya lelaki. Melalui Arjuna kita dapat belajar bahwa lelaki seharusnya
memikat, bukan terpikat pada perempuan. Sebab, jika lelaki terpikat oleh
kecantikan perempuan, maka kemungkinan besar akan dibelokkan cita-citanya.
Seperti kata papatah bijak, “Setialah pada cita-citamu, bukan pasanganmu”.
Lelaki yang mampu “memikat” maka pasangannya tak kuasa membelokkan cita-cita
sosialnya. Bukankah sebaik-baiknya ibadah adalah berguna bagi sesama..??
Kebetulan juga Arjuna juga sangat jago bermain panah. Seharusnya
para orang tua memberlakukan anak bagai sebuah panah. Seorang anak itu bagai
“Anak panah yang keluar dari busurnya masing-masing”. Orang tua hanya sanggup
mengarahkan arah anak panah, tetapi anak panah akan mencari cita-citanya
sendiri sesuai dengan keinginannya. “Anakmu bukan anakmu...”
Pada suatu ketika, Raden Arjuna sedang bertapa selama 32
hari 32 malam. Ada apa dengan angka 32. Konon tak seorang sahabat dan
orang-orang di sekitar Arjuna yang tau. Ternyata angka 32 menyimpan filosofis kehidupan.
3 ditambah 2 sama dengan 5. Itulah Panca
wiwijangan (panca indera). Lalu, 3 kali 2 sama dengan 6. Sad wiwijangan (firasat). Dan jika 3
dipangkatkan 2 itu 9. Itulah jumlah lubang pada setiap insan. Babahan hawa sanga. Oiya jika 3 - 2 itu
sama dengan 1. Bukankah hanya “satu” yang patut kita sembah?? ... Bukankah saat
menghadapi problematika hidup kita harus mempertimbangkan dan menyeimbangkan
antara panca indera, firasat, hawa nafsu. Serta berujung pangkal pada yang Maha
Esa..
Nama tengahnya adalah Actarenkha. Jika ditelisik lebih
dalam, actar berasal dari bahasa arab yang berarti langit keberuntungan. Dan
bukan kebetulan juga lelaki itu lahir atas bantuan dr. Tutit Lazuardi, S.OG
yang jika diartikan “lazuardi” itu juga “langit”. Lelaki itu langit dan
perempuan itu bumi. Kemanapun lelaki berkelana pasti akan kembali pada bumi.
Dan langit mengajarkan pada kita agar tidak sombong. “Di atas langit, masih ada
langit” . Sedangkan Renkha tersendiri adalah utak-atik dari ERlik DiNa dan
harendHiKA.
Nama terakhirnya adalah Lukiswara. Dalam bahasa jawa, “woro”
berarti berani. “wara” juga diartikan sebagai bidadari. Jadi bisa dibilang
Lukiswara adalah lukisan bidadari. Bagi saya, seorang perempuan yang
mempertaruhkan nyawa demi melalui tahapan hidup untuk melahirkan bayi yang
dikandungnya adalah bidadari yang sesungguhnya. Arjuna Actarenkha adalah
lukisannya yang sangat berharga... dan
“Arjuna Actarenkha Lukiswara” nama lengkapnya.
November 2012
Erlik-Dhika
Senin, 05 November 2012
Cinta pada sepotong daster
![]() |
| Lukisan: Basuki Abdulah |
Pagi masih gerimis, Asri masih saja disibukkan dengan penataan makanan di atas meja. Dengan daster kesayangannya, tak kuasa menahan peluh yang senantiasa mengalir di tubuhnya. Lelakinya masih belum beranjak dari kamar. Seperti biasa, lelaki itu dibangunkan setelah persiapan meja makan selesai.
Sudah hampir 5 tahun Asri tinggal bersama lelakinya. Lelaki bukan satu-satunya. Ada pangeran kecil yang mulai beranjak dewasa. Bertiga. Dengan penuh kasih sayang sejak bayi diasuhnya. Pangeran kecil itu sudah siap berangkat sekolah. Asri dengan senang hati membangunkan, memandikan, bahkan menyuapi dengan cekatan. Kesibukan setiap pagi mendera. Tak pernah sekalipun mengeluh dibuatnya...
"Mas... Sudah siang, cepatlah bangun. Nanti kamu terlambat"... Suara Asri cukup membangunkan lelaki di atas ranjangnya. Dengan celana seadanya. Tanpa sehelai benangpun menutupi dada bidangnya. Lelaki itu segera bergegas menuju kamar mandi. Tak lupa tiap berpapasan di ruang makan. Sebuah kecupan manis mendarat di kening Asri. Kenangan pagi yang selalu membuat Asri tersenyum sepanjang hari...
Lelaki itu cukup dikenal di daerahnya. Sebuah kota kecil yang dingin dan asri. Karir yang cemerlang tak membuat lelaki itu senang akan gemerlapan. Tak terkecuali dalam memilih pendamping hidup. Cukup perempuan sederhana yang mampu mengurus dan memberinya energi tuk bekerja. Cukup dengan perempuan yang setia dengan dasternya. Yang mau mambangunkan, mamandikan, menyuapi dan menjemput pangeran mungilnya. Tak ada harta apapun di dunia yang berharga selain anak dan perempuannya.
Hampir seluruh kota mengenal lelaki itu. Tak hanya oleh tampangnya yang rupawan, yang selalu membuat terpesona bagi perempuan menapun yang melihatnya. Dia bukan pimpinan daerah tapi pejabat birokrasi yang sangat disegani dan dihormati warganya. Kebijakan yang diambilnya selalu menyentuh hati masyarakat. Ide-ide keluar begitu saja dari kepala bak kupu-kupu yang keluar dari sarang. Karena kecerdasannya, banyak teman sejawat yang minta pertimbangan dalam memutuskan sebuah perkara.
Tiap waktu senggang siang tiba, tak lupa dia selalu pulang ke rumah. Tak lain tak bukan tuk menemui pujaaan hatinya. Asri. Tentu masih setia dengan daster yang membalut tubuh mungilnya.
"Tumben mas.. jam segini udah istirahat" sapa Asri pada lelakinya
"Iya kebetulan tadi sedang survey lapangan, sekalian pulang ke rumah" sahutnya
"Mau dibuatin kopi mas..."
"Iya boleh....."
Kerika Asri sedang asik mengaduk-aduk kopi, tiba2 lelaki itu mendekapnya dari belakang. Asri pun sangat paham akan situasi seperti ini. Diapun selalu menginginkanya. Sebuah momen romantis bak cinta pangeran pada permaisuri yang selalu berakhir di ranjang asmara...
Momen seperti inilah yang selalu menjadi candu mereka berdua. Memadu kasih setiap saat yang tak terduga. Lelaki itupun sadar, setelah melakukannya, begitu besar energi yang tercipta. Kebijakan-kebijakan yang keluar dari mulutnya tak henti-hentinya bergema. Ide-ide pun mengalir begitu saja. Pekerjaanya selalu berakhir dengan prestasi yang selalu mendera. Dia pun sadar bahwa, masa depan negara ini tergantung pada perempuan di dalamnya. Tiap pemimpin besar dunia atau orang yang sukses dibidangnya, pasti yang ditanya adalah siapa perempuan disampingnya.
Pernah pada suatu ketika, dalam sebuah rapat dengan pejabat di kotanya. Ada pejabat perempuan yang merasa kasihan pada kolega kerja sama yang sebagian besar para lelaki. Sang lelaki kekasih Asri-pun geleng-geleng dibuatnya. Dalam hati dia bergumam.. Pasti pejabat perempuan itu lupa bahwa endonesa pernah punya RA Kartini, Dewi Sartika atau Cut Nyak Dien. Pada saat itu, Cut Nyak Dien memberi syarat pada lelaki yang akan mempersuntingnya bahwa dia harus mampu mengusir penjajah dari bumi rencong. Walaupun ahirnya calon suaminya itu wafat di medan perang oleh Belanda. Begitulah seharusnya perempuan. Tak mudah mengasihani pada sosok lelaki... Perempuanlah yang memiliki kekuatan dan memberi kekuatan kepada lelaki.. Begitu seharusnya..
Sebelum keduanya benar-benar tertidur, Asri segera bergegas dari ranjangnya...
"Aduh mas, sudah jam 1.. Miko kan waktunya pulang..." dengan cekatan Asri memakai dasternya..
"Aku berangkat dulu ya mas, kalau mau makan sudah tak siapin di meja. Tak lupa aku buatain sambal kesukaanmu..."
Lelaki itu tak kuasa berbicara. Napasnya masih terengah-engah dibuatnya... Sambil senyum bahagia, matanya sudah cukup mengantarkan kepergian Asri menjemput anaknya.
Tak seberapa lama teleponnya berdering... Sambil mengatur napas, lelaki itu segera menjawab telepon..
" Sayang... sekarang lagi dimana??"
" Miko ga apa2 kan? Semalam aku mimpi yang engga2, aku takut terjadi apa2 sama Miko" Anak kita satu-satunya..
" Ibu juga sehat2 aja kan..." Jangan suruh ibu antar jemput Miko tiap hari ya.. Kasihan!!!
" Aku mungkin seminggu lagi baru bisa pulang"
" Cuaca disini sedang buruk, sehingga jadwal pesawat sedang di delay.."
Lelaki itupun menjawab, " Cepat pulang ya sayang... Aku, anakmu dan ibumu disini selalu menunggumu"
November 2012
Follow me on twitter: @harend26
Label:
Sehari - Hari
Lokasi:
Trenggalek, Indonesia
Rabu, 31 Oktober 2012
Masih relevankah konsep "Kota Hijau" diterapkan di kabupaten
![]() |
| www.koran-jakarta.com |
Kota
sebagai organisme akan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan berjumlahnya
jumlah penduduk. Telah muncul prediksi banyak ahli bahwa pada tahun 2030
sebesar 60% jumlah penduduk akan tinggal di kota. Sebagai organisme, maka kota
juga memiliki daya tahan berupa daya dukung dan daya tampung wilayah.
Pengembangan kota yang tidak terkendali hanya akan memunculkan permasalahan
yang mengganggu aktivitas warganya. Permasalahan tersebut diantaranya kemacetan,
banjir, polusi, pencemaran, kekumuhan, kriminalitas, kesenjangan sosial dan
berkurangnya ruang terbuka.
Menanggapi
permasalahan tersebut, maka perlu solusi untuk menjamin aktivitas warga kota
berjalan sesuai harapan. Konsep-konsep yang berwawasan lingkungan mulai
dijadikan panglima dalam pengembangan kota. Muncul berbagai istilah pada even
kontekstual diantaranya eco city,
sustainable city, ecological city, smart city, kota hijau, dan kota
berkelanjutan. Konsep-konsep tersebut
berusaha menjawab tantangan pengembangan kota di masa mendatang bahwa
pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti apa-apa jika warganya tidak
memiliki rasa bahagia tinggal di kota.
Lalu
pertanyaannya adalah seperti apakah konsep konsep hijau tersebut dan bagaimana
konsep tersebut bekerja di kota yang tingkat kompleksitas permasalahannya
sangat tinggi. Kota hijau merupakan kota yang memanfaatkan air energi secara
efektif dan efisien, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu,
menjamin kesehatan lingkungan, mensinergikan lingkungan alami dan buatan,
berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang menerapkan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan (www.unep.org/wed).
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kota hijau tidak
hanya memperbanyak ruang hijau tetapi juga memiliki infrastruktur yang ramah
lingkungan bagi warganya serta komunitas yang concern. Kota hijau memiliki atribut diantaranya green planning and design, green open space,
green water, green waste, green community, green transportation, green energy dan green building. Ke-delapan atribut
tersebut merupakan sistem yang harus sinergi dalam implementasinya.
Penerapan
atribut kota hijau juga menemui berbagai hambatan diantaranya tingginya
pendanaan, keterbatasan lahan untuk ruang hijau, perilaku masyarakat yang
kontraproduktif dan destruktif, pesatnya jumlah penduduk serta orientasi
pembangunan yang lebih ke ekonomi. Berbagai hambatan tersebut harus disikapi
dengan dengan leadership yang pro green, politik anggaran pro green serta didukung oleh komunitas
hijau.
Pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana dengan kota di kabupaten. Masih perlukah penerapan
kota hijau di kota kecil yang masih terdapat lahan non terbangun yang cukup
luas. Ruang hijau alamipun bisa mencapai lebih dari 30% sesuai dengan standar Undang-Undang.
Sebagian besar kota kabupaten di Indonesia masih memiliki ciri pedesaan dengan
adanya lahan pertanian sawah maupun tegalan. Kota di kabupaten juga jauh dari
permasalahan seperti banjir sehingga tidak perlu green water dan green open
space, kemacetan sehingga tidak perlu green
transportation. Energi masih bisa tersuplai PLN sehingga tidak perlu green energy, dan bangunan tidak perlu
“ditempeli” tanaman atap karena lingkungan sekitarnya masih hijau.
Terkait
dengan green open space, biasanya
kota di kabupaten sudah memiliki hamparan sawah yang masih cukup luas. Jika
sawah tersebut dialihfungsikan menjadi sebuah ruang hijau seperti taman (park), maka nilai ekonomis dari lahan
tersebut akan hilang. Sebuah taman tidak akan memberikan nilai ekonomi bagi
pemilik lahan. Pembangunan taman (park)
juga dirasa tidak perlu karena secara ekologis ruang hijau di kota kabupaten
masih melimpah (lebih dari 30%).
Kalau
begitu, masih relevankah konsep kota hijau dengan atributnya diterapkan di kota
kabupaten. Sejenak, marilah kembali ke esensi dari kota hijau. Kota hijau harus
dipandang sebagai sebuah instrumen untuk membuat warga kota hidup lebih
bahagia. Kebahagiaan tersebut akan diraih jika kota menyediakan ruang seperti
taman (park) bagi interaksi antar warga maupun interaksi dengan alam. Bahkan
menurut psikolog, bahwa interaksi dengan alam dapat menurunkan tingkat derajat
stres seseorang. Dalam sebuah acara TED-x, seorang arsitek @ridwankamil pernah
berkata “ Kota yang baik adalah jika warganya mau keluar rumah secara sukarela
“. Jika kita tidak tau mau pergi kemana, takut keserempet mobil, takut naik
angkot, takut kebanjiran, takut menghirup polusi, takut kecopetan, takut ada
tawuran, takut akan bau sampah berarti ada yang salah dengan kota tersebut.
Bisakah konsep kota hijau mewujudkan kebahagiaan warganya?
Are
You Happy???
Follow me on twitter : @harend26
Label:
Kota dan Wilayah
Lokasi:
Trenggalek, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)



