Jumat, 15 Maret 2013

Arjuna Hidup di Alam Demokrasi


Namaku Arjuna, penengah pandawa. Kakakku Yudistira dan Werkudara. Sedangkan kedua adik kembarku Nakula-Sadewa. Kami berlima sekarang tinggal di negeri seberang. Dengan demokrasi sebagai panglima. Disini demokrasi dipuja dan disembah layaknya raja. Segala perkara diselesaikan lewat tangan dingin demokrasi. Tak terkecuali masalah keluarga kami. Biasanya kakakku yang tertua, Yudistira yang memimpin rapat.

Matahari masih di ujung senja, saya duduk mematung di sudut ruangan. Hari ini akan ada pertemuan keluarga. Pesan BBm Yudistira kuterima semenjak suara alarm alam bersahutan menyambu pagi. Ya, suara kokok ayam masih setia membangunkanku. Di jaman sekarang mungkin alarm alam tersebut tak pernah lagi dirasakan masyarakat perkotaan yang hanya mendengar deru kendaraan lewat di jalanan. Disini masih ada suara simphoni kodok di musim hujan, suara jangkrik memecah malam serta kokok ayam menyambut mentari di balik awan.

Kami sepakat bertemu pukul 16.30. Di balik dinding atas jendela, jam menunjuk angka 16.45. Sudah 15 menit saya menunggu mereka. Semenjak pergi ke negeri ini, molor dan telat sepertinya sedang mewabah budaya bangsa. Di kota besar, macet menjadi alasan utama. Tapi di kota kecil yang jalannya sepi nan sering usang di makan air hujan, masih saja saudara-saudaraku tak bisa menepati waktu janjian. Aaahhh sudahlah.. Saya tengok sedikit timeline twitter saja. "Gerutuku".

Tepat pukul 17.00, si kembar Nakula - Sadewa datang dengan gontainya. Sepertinya mereka sedang lusuh dilanda persoalan entah apa saya tidak tau.

"Brooo, gimana ini.. Masa' rumah harus kita robohkan" Celutuk Nakula.

"Itu kan satu-satunya warisan orang tua kita brooo... ". Sahut Sadewa

Tanpa sempat kujawab, kakak Yudistira dan Bima datang hampir bersamaan. Yudistira langsung menempati singgasana di tengah2 meja dan kita duduk mengelilinginya. Maaf saudara-saudara. Saya datang telat sekali. Banyak kesibukan yang harus diselesaikan. "Hmmm... emangnya situ saja yang sibuk..  ". Kataku dalam hati. "Seharusnya sesibuk apapun kita, jangan sampai mengganggu kesibukan orang lain. Mungkin dengan ketelatan 1 orang akan menggangu jadwal dan agenda2 yang lain". Kesalku dalam hati...

Tanpa berpanjang lebar. Yudistira langsung menawarkan opsi kalau rumah harus dipertahankan. Bahkan nyawapun menjadi taruhan. Hal ini diamini Bima. Bima merasa memiliki kenangan yang tak terlupakan dengan rumah yang dihuni mereka berlima sejak masih ingusan. "Di sini, aku bebas melihat jernihnya sungai dengan gemericik air yang menenangkan suasana. Disini juga tempat kita menghilangkan dahaga". Ujar Bima sedikit terbata-bata. "Mungkin adikku Arjuna ada pendapat" Sambung Yudistira.

Baiklah saudara2ku. Keadaan sekarang dengan dulu jauh sangat berbeda. Negeri tempat kita berlima berpijak ini tak lagi dipimpin oleh raja. Sungai nan jernih dan suara air gemericik tak lagi terdengar. Lingkungan di hulu sungai dirusak manusia yang mengatasnamakan pembangunan. Masyarakat di sekitar rumah kita semakin banyak. Rumah berjejal-jejal membelakangi sungai bak mobil F1 yang saling beradu di lintasan. Hanya rumah kita saja yang berhalaman depan sungai. Lainnya pada membelakanginya. Merekapun tak segan buang sampah dan hajat di sungai. Sungai semakin tercemar. Ikan-ikan tak lagi betah berenang hingga berangsur2 hanyut mengapung bersama sampah. 

"Oooo.. ini to ternyata alasan para penguasa mau menggusur rumah kita ". Kata Nakula antusias.

"Lalu, kenapa baru sekarang mereka mau menggusur rumah-rumah tepi sungai termasuk rumah kita?" Sambung Sadewa tak mau kalah.Saya yakin mereka takkan berani melakukannya. Disudut sungai ini, akan dibangun wahana bermain, tepat ditepi sungai dengan dana milyaran rupiah. Konon investornya sudah terakses dengan salah satu penguasa. Lha tentunya rumah kita juga aman dari buldoser yang sewaktu2 mendera. 

"Sebentar saudara2... Hukum harus ditegakkan. Aturan sangat jelas bahwa sekitar 15 m dari bibir sungai harus bebas dari bangunan. Itu upaya untuk menyelamatkan sungai sebagai satu kesatuan ekosistem.  Yang ada jika bangunan semakin rapat, maka sampah semakin menumpuk, sungai menjadi dangkal, tercemar bahkan banjir di kawasan sekitar". Kata Arjuna.

"Semakin pintar saja kau Arjuna". Potong Bima dengan pandangan yang tajam. "Jadi kau tak sudi lagi mempertahankan rumah peninggalan orang tua kita. Kata2mu kan cuma aturan. Aturan dibuat kan untuk dilanggar".

"Aku setuju dengan Bima, saudaraku". Sang pimpinan rapat berbicara. Kalau kita lihat di negeri seberang. Banyak juga bangunan yang mepet pet dengan sungai. Toh ga dilarang. Malah sungainya dijadikan sarana transportasi warganya". "Itu aturan yang ga bener saudara Arjuna. Tak usah kita hiraukan aturan itu. Ayo rumah kita pertahankan sebagai warisan kedua orang tua kita".

"Setujuuuuu.....". Jawab Nakula-Sadewa kompak.

"Jadi saya putuskan bahwa rumah kita pertahankan dengan sepenuh jiwa. Kita abaikan aturan negeri ini. Toh di negeri seberang tidak jadi permasalahan. Kita sudah ikut arus demokrasi di negeri ini. Bahwa keputusan diambil dari suara terbanyak. Dan kau saudara Arjuna. Satu-satunya yang tidak sependapat dengan kita.". Begitulah sang pimpinan rapat menutup acara. 

Di negeri demokrasi ini, kebenaran ditentukan oleh banyak-banyaknya suara. Padahal saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa suara terbanyak belum tentu benar. Yaaaaa... Inilah klenik demokrasi.. "suara Arjuna dalam hati. 


Trenggalek, Maret 2013


Follow me on twitter : @harend26

Minggu, 17 Februari 2013

Polemik Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Kabupaten


Sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2011 tentang Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan maka setiap daerah harus menetapkan dimana lahan yang harus "diselamatkan" dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.

Permasalahan yang banyak ditemui di kabupaten adalah sebagian besar lahan pertanian beririgasi teknis berada di kawasan perkotaan kabupaten. Muncul dilema antara mempertahankan lahan pertanian tersebut dengan mengubah fungsi petanian menjadi fungsi "kota". Secara sederhana, kota merupakan kawasan dengan peruntukan non pertanian. Desakan pembangunan di kawasan kota perlahan-lahan mengancam keberadaan lahan pertanian tersebut. Bahkan di berbagai daerah di Indonesia, lahan pertanian di kawasan kota berubah menjadi kawasan komersial, industri, perkantoran dan perumahan.

Jika kita melihat kesesuaian dan kemampuan lahan untuk peruntukan pertanian dan kawasan terbangun maka keduanya sebenarnya berada pada klasifikasi yang sama. Hampir semua variabel dan indikator yang menentukan kesesuaian dan kemampuan lahan antara keduanya memiliki kesamaan. Sebagai contoh sederhana adalah sawah dan kawasan terbangun sama-sama membutuhkan ketersediaan air tanah yang cukup, sama-sama berada pada kelerengan 0-15%, tidak berada pada kawasan rawan bencana, memiliki curah hujan yang tinggi. Jadi jika perencana melakukan analisis kemampuan dan kesesuaian lahan maka kedua penggunaan lahan untuk pertanian dan kawasan terbangun terletak pada lokasi yang sama. Lokasi tersebut pada kabupaten biasanya terletak di kawasan datar/ibukota kecamatan.

Lalu bagaimana sebaiknya pemerintah daerah menyikapi permasalahan tersebut??

Pertama, tentukan dulu kemana arah pengembangan kota ke depan. Disini, dibutuhkan pemimpin yang visioner. Jika kota pertanian/agropolitan yang menjadi tujuan maka keberadaan lahan pertanian mutlak harus dilindungi dan memberikan mekanisme perijinan yang ketat terhadap perubahan fungsi lahan. 

Kedua, Hitung berapa proyeksi penduduk jangka panjang. Misal: 20 tahun. Berapa kebutuhan pangan untuk jangka waktu tersebut. Berapa luas lahan yang dibutuhkan. Dengan adanya hitungan tersebut maka dapat diketahui apakah lahan pertanian yang ada saat ini perlu dipertahankan, ditambah luasannya atau malah bisa di kurangi luasannya untuk mengakomodasi pembangunan sebuah kota.  

Ketiga, ketahui siapa pemilik lahan pertanian tersebut. Yang terjadi saat ini adalah lahan pertanian di kawasan kota sudah dikuasai oleh pemodal. Dan petani penggarap hanya menyewa sehingga suatu saat dapat diambil alih oleh pemilik lahan/pemodal. Jika keadaannya memang demikian, maka akan sulit lahan  tersebut dipertahankan tetap menjadi lahan pertanian.

Keempat, insentif kepada petani yang juga pemilik lahan pertanian. Pemerintah harus memberikan prasarana seperti jaringan irigasi. Melakukan penyuluhan dan bantuan pupuk. Disinsentif juga diberlakukan kepada pemodal seperti pemberian pajak yang tinggi dan tidak diterbitkan perijinan untuk kegiatan non pertanian.Disinsentif di bidang infrastruktur juga bisa dijadikan strategi mempertahankan lahan pertanian. Misal dengan membuat jaringan jalan sebagai "pembatas" perkembangan kota.

Kelima, bank lahan. Jika pemerintah memiliki kelebihan uang maka dapat membeli lahan. Lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk tujuan mempertahankan lahan pertanian. 

Tentunya masih banyak lagi solusi dalam rangka implementasi UU No. 41 Tahun 2011 tentang penetapan lahan pertanian berkelanjutan di kabupaten. Yang jelas lahan pertanian di sebuah kota bukanlah sesuatu yang haram walaupun kota itu sendiri didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi (Permen PU No. 20 Tahun 2012).

Dan sebagai pengambil kebijakan, sudah seyogyanya penentuan dimana lahan pertanian berkelanjutan terutama di kawasan perkotaan melalui analisis yang detail, komprehensif, orientasi ke depan dan partisipatif. Bukan hanya melihat kondisi eksisting dimana ada lahan sawah beririgasi teknis dengan otomatis ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan. Serta kebutuhan pangan tidak hanya berupa beras saja. Ada ketela dan sagu yang telah turun menurun menjadi makanan leluhur.

Februari 2013


Follow me on twitter : @harend26 
 

Selasa, 15 Januari 2013

Aku dan dua perempuan

Lukisannya Dullah

Suara deru motor di jalanan depan rumah cukup memekakkan telinga. Sambil sedikit membuka mata, disampingku masih tertidur pulas seorang perempuan. Kepala ini sedikit pusing. Malam yang cukup buruk bagiku. Badan meriang di tengah derasnya hujan yang bersahutan di luar sana. Tidak seperti perempuan itu. Terlihat sekali menikmati hujan di malam sahdu. Sampai tak tau kalau aku sudah melihat paginya dunia terlebih dahulu. Aku masih ingat sebuah ungkapan, “Pagi menjadi berkesan bukan karena pagi, tapi dengan siapa kita di waktu pagi”. 


Di rumah mungil yang halaman belakangnya lebih luas dari halaman depannya, aku tinggal bersama 2 perempuan. Kebetulan aku lelaki satu-satunya. Sudah hampir 2 bulan aku hanya terbaring di kasur. Bahkan tuk beranjakpun aku tak mampu. Dua perempuan itulah yang membantuku selama ini. Dari membuatkan asupan makanan dan membersihkan sisa kotoran buang air kecil dan besar


Akupun tahu, kadang mereka menggerutu. Disibukkan dengan pekerjaan di siang harinya, tentunya malam hari adalah saat ketika penat dilepaskan dengan sangat di kamar tidur. Tapi apa dayaku, hanya mereka yang kuharapkan membantuku. Kadang mereka bergantian menjagaku. Sekedar memastikan bahwa aku tak membasahi kasur dengan air seniku. Semacam kerja shif seperti di perusahaan. Jika petang mulai berselang, aku sebenarnya sudah berusaha buang air kecil agar sepanjang malam tak terasa. Tapi apa daya, udara dingin di luar sana membuyarkan rencana. 


Pagi ini aku bosan di dalam kamar. Kucoba mandiri berdiri, tapi apa daya aku tak sanggup. Badan ini terasa sangat berat. Aku takut jatuh dari ranjang dan malah membuat mereka marah. Perempuan pertama sibuk di dapur menyiapkan sarapan sedangkan perempuan kedua bersolek bersiap berangkat kerja. Pagi adalah saat tersibuk di rumahku. Tapi pagi ini keinginanku tuk sekedar melihat orang berlalu lalang di depan rumahku tak tertahankan. Sekedar melihat embun yang menetes di dedaunan. Atau menikmati hembusan angin dari balik bukit yang menyiratkan kebebasan pikiran. 


Aku tak tau sampai kapan kedua perempuan itu dengan sabar merawatku. Ingin rasanya segera meringankan beban mereka dengan membalas segala tindakannya. Tak lupa segenap doa terpanjat. Bersama hembusan angin yang sedikit menyayat. Di balik rumah, sayup-sayup terdengar suara motor pertanda perempuan kedua segera berangkat kerja. Pemandangan yang cukup asing bagiku selain melihatnya langsung memacu motornya di waktu pagi.. Perlahan suara deru motor menghilang seiring dengan masuknya siluet sinar mentari menembus sela-sela jendela. 


****


Sore itu hujan sedang marah. Anginpun ikut-ikutan memperburuk suasana. Suara pintu tertutup dengan paksa sedikit memekakkan telinga. Kedua perempuan itu sibuk mencari timba tuk mewadahi air yang menetes dari atap yang bocor. Saat itu aku sedang lapar dan dahaga. Ingin rasanya berteriak, perut terasa teraduk oleh 2 tembang keroncong jawa. Aku sudah tak kuat lagi, hingga pipi ini basah oleh air mata. Tak sederas hujan di luar sana. Tapi cukup pedih terasa di dada. Untungnya perempuan kedua segera beranjak ke kamar. Dengan cekatan dibuatlah asupan. Sekejap, laparpun beranjak pergi diiringi lantunan lagu gending jawa mengalun dari mulut tipisnya. 


*****


Minggu ketiga di bulan Desember......


Pagi itu aku agak bangun kesiangan. Tak seorangpun kulihat di dalam kamar. Mungkin perempuan pertama sibuk menyiapkan sarapan. Tapi perempuan kedua tak mungkin bersolek karena ini adalah minggu. Sayup-sayup terdengar suara dua perempuan yang semakin jelas. Rupanya, kedua perempuan itu terlihat mempesona dengan aroma bau bunga sebagai parfumnya. Jelas sekali baju motif rona bunga sedikit membukakan mata. Akupun tak sadar bahwa baju yang kupakai tidur semalam sudah berganti. Sejak kapan mereka mengganti baju tidurku. Atau mereka sedang memiliki rencana yang tak kuketahui berniat memberi kejutan di hari minggu. Aaahhh sudahlah......, aku tak mau terlalu berharap. Semoga saja aku dibawa ke sebuah tempat di luar sana agar sebentar kulihat dunia yang sebenarnya. Dunia yang menungguku selama ini. Pilihan yang harus kujalani sejak tumbuh dalam rahim ibuku. Kini aku harus bisa hidup mandiri. Tak lagi mengandalkan asupan makanan dari plasenta ibuku dan berusaha menyesuaikan diri dengan dinginnya dunia yang mungkin tak sehangat rahim ibuku.


Kedua perempuan itu tersenyum bahagia di balik timbangan sebuah Posyandu. Aku telah tumbuh dengan sempurna. Bukan sempurna dalam arti sempit tapi ketika kita mampu melewati tahapan kehidupan dengan baik itulah kesempurnaan yang sebenarnya. Umurku hampir 2 bulan lamanya. Panjangku bertambah 15 cm dari semula dan berat badanku naik 2,3 kg. Setelah sampai rumah, perempuan kedua dengan mesra memintaku meminum susu dari putingnya.



Januari 2013

*Cerpen ini saya dedikasikan untuk seluruh ibu-ibu yg tdk hanya melahirkan tapi merawat dan membesarkan bayinya...


Follow me on twitter : @harend26

Minggu, 25 November 2012

Lelaki bernama Arjuna ......



Andai sebuah novel, maka dia berada pada paragrap pertama dan akan selalu ada dari awal sampai akhir cerita. 

Lelaki itu bernama depan Arjuna. Kebetulan ibunya sangat terkiul-kiul pada Master Chef Juna. “Pembawaanya laki banget.” Ujarnya. Tak henti-hentinya dipandangi lewat layar kaca. Dalam jagad pewayangan, sosok Arjuna dikenal sebagai penengah Pandawa di negara Amarta. Mampu menjadi magnet bagi sebagian besar perempuan. Tanpa harus mengumbar kata-kata cinta. Begitulah seharusnya lelaki. Melalui Arjuna kita dapat belajar bahwa lelaki seharusnya memikat, bukan terpikat pada perempuan. Sebab, jika lelaki terpikat oleh kecantikan perempuan, maka kemungkinan besar akan dibelokkan cita-citanya. Seperti kata papatah bijak, “Setialah pada cita-citamu, bukan pasanganmu”. Lelaki yang mampu “memikat” maka pasangannya tak kuasa membelokkan cita-cita sosialnya. Bukankah sebaik-baiknya ibadah adalah berguna bagi sesama..?? 

Kebetulan juga Arjuna juga sangat jago bermain panah. Seharusnya para orang tua memberlakukan anak bagai sebuah panah. Seorang anak itu bagai “Anak panah yang keluar dari busurnya masing-masing”. Orang tua hanya sanggup mengarahkan arah anak panah, tetapi anak panah akan mencari cita-citanya sendiri sesuai dengan keinginannya. “Anakmu bukan anakmu...”

Pada suatu ketika, Raden Arjuna sedang bertapa selama 32 hari 32 malam. Ada apa dengan angka 32. Konon tak seorang sahabat dan orang-orang di sekitar Arjuna yang tau. Ternyata angka 32 menyimpan filosofis kehidupan. 3 ditambah 2 sama dengan 5. Itulah Panca wiwijangan (panca indera). Lalu, 3 kali 2 sama dengan 6. Sad wiwijangan (firasat). Dan jika 3 dipangkatkan 2 itu 9. Itulah jumlah lubang pada setiap insan. Babahan hawa sanga. Oiya jika 3 - 2 itu sama dengan 1. Bukankah hanya “satu” yang patut kita sembah?? ... Bukankah saat menghadapi problematika hidup kita harus mempertimbangkan dan menyeimbangkan antara panca indera, firasat, hawa nafsu. Serta berujung pangkal pada yang Maha Esa.. 

Nama tengahnya adalah Actarenkha. Jika ditelisik lebih dalam, actar berasal dari bahasa arab yang berarti langit keberuntungan. Dan bukan kebetulan juga lelaki itu lahir atas bantuan dr. Tutit Lazuardi, S.OG yang jika diartikan “lazuardi” itu juga “langit”. Lelaki itu langit dan perempuan itu bumi. Kemanapun lelaki berkelana pasti akan kembali pada bumi. Dan langit mengajarkan pada kita agar tidak sombong. “Di atas langit, masih ada langit” . Sedangkan Renkha tersendiri adalah utak-atik dari ERlik DiNa dan harendHiKA.

Nama terakhirnya adalah Lukiswara. Dalam bahasa jawa, “woro” berarti berani. “wara” juga diartikan sebagai bidadari. Jadi bisa dibilang Lukiswara adalah lukisan bidadari. Bagi saya, seorang perempuan yang mempertaruhkan nyawa demi melalui tahapan hidup untuk melahirkan bayi yang dikandungnya adalah bidadari yang sesungguhnya. Arjuna Actarenkha adalah lukisannya yang sangat berharga... dan  “Arjuna Actarenkha Lukiswara” nama lengkapnya. 

November 2012

Erlik-Dhika

Senin, 05 November 2012

Cinta pada sepotong daster

Lukisan: Basuki Abdulah

Pagi masih gerimis, Asri masih saja disibukkan dengan penataan makanan di atas meja. Dengan daster kesayangannya, tak kuasa menahan peluh yang senantiasa mengalir di tubuhnya. Lelakinya masih belum beranjak dari kamar. Seperti biasa, lelaki itu dibangunkan setelah persiapan meja makan selesai.

Sudah hampir 5 tahun Asri tinggal bersama lelakinya. Lelaki bukan satu-satunya. Ada pangeran kecil yang mulai beranjak dewasa. Bertiga. Dengan penuh kasih sayang sejak bayi diasuhnya. Pangeran kecil itu sudah siap berangkat sekolah. Asri dengan senang hati membangunkan, memandikan, bahkan menyuapi dengan cekatan. Kesibukan setiap pagi mendera. Tak pernah sekalipun mengeluh dibuatnya...


"Mas... Sudah siang, cepatlah bangun. Nanti kamu terlambat"... Suara Asri cukup membangunkan lelaki di atas ranjangnya. Dengan celana seadanya. Tanpa sehelai benangpun menutupi dada bidangnya. Lelaki itu segera bergegas menuju kamar mandi. Tak lupa tiap berpapasan di ruang makan. Sebuah kecupan manis mendarat di kening Asri. Kenangan pagi yang selalu membuat Asri tersenyum sepanjang hari...  

Lelaki itu cukup dikenal di daerahnya. Sebuah kota kecil yang dingin dan asri. Karir yang cemerlang tak membuat lelaki itu senang akan gemerlapan. Tak terkecuali dalam memilih pendamping hidup. Cukup perempuan sederhana yang mampu mengurus dan memberinya energi tuk bekerja.  Cukup dengan perempuan yang setia dengan dasternya. Yang mau mambangunkan, mamandikan, menyuapi dan menjemput pangeran mungilnya. Tak ada harta apapun di dunia yang berharga selain anak dan perempuannya.

Hampir seluruh kota mengenal lelaki itu. Tak hanya oleh tampangnya yang rupawan, yang selalu membuat terpesona bagi perempuan menapun yang melihatnya. Dia bukan pimpinan daerah tapi pejabat birokrasi yang sangat disegani dan dihormati warganya. Kebijakan yang diambilnya selalu menyentuh hati masyarakat. Ide-ide keluar begitu saja dari kepala bak kupu-kupu yang keluar dari sarang. Karena kecerdasannya, banyak teman sejawat yang minta pertimbangan dalam memutuskan sebuah perkara.

Tiap waktu senggang siang tiba, tak lupa dia selalu pulang ke rumah. Tak lain tak bukan tuk menemui pujaaan hatinya. Asri. Tentu masih setia dengan daster yang membalut tubuh mungilnya. 

"Tumben mas.. jam segini udah istirahat" sapa Asri pada lelakinya

"Iya kebetulan tadi sedang survey lapangan, sekalian pulang ke rumah" sahutnya

"Mau dibuatin kopi mas..."

"Iya boleh....."

Kerika Asri sedang asik mengaduk-aduk kopi, tiba2 lelaki itu mendekapnya dari belakang. Asri pun sangat paham akan situasi seperti ini. Diapun selalu menginginkanya. Sebuah momen romantis bak cinta pangeran pada permaisuri yang selalu berakhir di ranjang asmara... 

Momen seperti inilah yang selalu menjadi candu mereka berdua. Memadu kasih setiap saat yang tak terduga. Lelaki itupun sadar, setelah melakukannya, begitu besar energi yang tercipta. Kebijakan-kebijakan yang keluar dari mulutnya tak henti-hentinya bergema. Ide-ide pun mengalir begitu saja. Pekerjaanya selalu berakhir dengan prestasi yang selalu mendera. Dia pun sadar bahwa, masa depan negara ini tergantung pada perempuan di dalamnya. Tiap pemimpin besar dunia atau orang yang sukses dibidangnya, pasti yang ditanya adalah siapa perempuan disampingnya.

Pernah pada suatu ketika, dalam sebuah rapat dengan pejabat di kotanya. Ada pejabat perempuan yang merasa kasihan pada kolega kerja sama yang sebagian besar para lelaki. Sang lelaki kekasih Asri-pun geleng-geleng dibuatnya. Dalam hati dia bergumam.. Pasti pejabat perempuan itu lupa bahwa endonesa pernah punya RA Kartini, Dewi Sartika atau Cut Nyak Dien. Pada saat itu, Cut Nyak Dien memberi syarat pada lelaki yang akan mempersuntingnya bahwa dia harus mampu mengusir penjajah dari bumi rencong. Walaupun ahirnya calon suaminya itu wafat di medan perang oleh Belanda. Begitulah seharusnya perempuan. Tak mudah mengasihani pada sosok lelaki... Perempuanlah yang memiliki kekuatan dan memberi kekuatan kepada lelaki.. Begitu seharusnya..

Sebelum keduanya benar-benar tertidur, Asri segera bergegas dari ranjangnya...

"Aduh mas, sudah jam 1.. Miko kan waktunya pulang..." dengan cekatan Asri memakai dasternya..

"Aku berangkat dulu ya mas, kalau mau makan sudah tak siapin di meja. Tak lupa aku buatain sambal kesukaanmu..." 

Lelaki itu tak kuasa berbicara. Napasnya masih terengah-engah dibuatnya... Sambil senyum bahagia, matanya sudah cukup mengantarkan kepergian Asri menjemput anaknya.

Tak seberapa lama teleponnya berdering... Sambil mengatur napas, lelaki itu segera menjawab telepon..

" Sayang... sekarang lagi dimana??"

" Miko ga apa2 kan? Semalam aku mimpi yang engga2, aku takut terjadi apa2 sama Miko" Anak kita satu-satunya..

" Ibu juga sehat2 aja kan..." Jangan suruh ibu antar jemput Miko tiap hari ya.. Kasihan!!!

" Aku mungkin seminggu lagi baru bisa pulang"

" Cuaca disini sedang buruk, sehingga jadwal pesawat sedang di delay.."

Lelaki itupun menjawab, " Cepat pulang ya sayang... Aku, anakmu dan ibumu disini selalu menunggumu"


November 2012

Follow me on twitter: @harend26